Faktor keturunan memiliki pengaruh apakah seseorang dapat terkena diabetes atau tidak. Selain keturunan, gaya hidup juga berperan besar. Diabetes tipe 2 sering terjadi pada orang yang mengalami obesitas. Obesitas atau kegemukan merupakan pemicu terpenting penyebab diabetes.
Obesitas artinya berat badan berlebih minimal sebanyak 20% dari berat badan idaman. Juga berarti indeks masa tubuh lebih dari 25 kg/m2. Lemak yang berlebih akan menyebabkan resistensi terhadap insulin. Ini menjelaskan mengapa diet dan olahraga merupakan metode penatalaksanaan untuk diabetes tipe 2.
Dengan menurunkan berat badan dan meningkatkan massa otot, akan mengurangi jumlah lemak sehingga membantu tubuh memanfaatkan insulin dengan lebih baik. Ternyata ada hubungan antara diabetes tipe 2 dengan letak tumpukan lemak terbanyak. Bila timbunan lemak terbanyak terdapat di perut maka risiko terkena diabetes lebih tinggi.
Para peneliti juga percaya bahwa gen yang membawa sifat obesitas ikut berperan dalam menyebabkan diabetes. Gen yang bernama gen obes ini mengatur berat badan melalui protein pemberi kabar apakah kita lapar atau tidak. Pada percobaan dengan tikus, bila gen ini bermutasi maka tikus akan menjadi obes dan mengalami diabetes tipe 2.
Penelitian menunjukkan bahwa kegemukan berhubungan dengan waktu yang dihabiskan di depan TV dan komputer. Menonton TV akan menyebabkan tidak bergerak juga berpengaruh terhadap pola makan mengemil.Bagaimana cara mengatasi kegemukan untuk menghindari diabetes?
Caranya mudah, murah dan efektif, antara lain:
1. Membiasakan diri untuk hidup sehat
2. Biasakan diri berolahraga secara teratur
3. Hindari menonton TV atau main komputer terlalu lama
4. Jangan mengkonsumsi permen, coklat, atau snack dengan kandungan garam yang tinggi.
5. Hindari makanan siap saji dengan kandungan kadar karbohidrat dan lemak tinggi.
6. Konsumsi sayuran dan buah-buahan.
Rabu, 13 Januari 2010
Epidemiologi
0 comments
Banyak orang yang masih mengganggap penyakit diabetes merupakan penyakit orang tua atau penyakit yang hanya timbul karena faktor keturunan. Padahal, setiap orang dapat mengidap diabetes, baik tua maupun muda, termasuk Anda. Namun, yang perlu anda pahami adalah anda tidak sendiri.
Menurut data WHO, Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita Diabetes Mellitus di dunia. Pada tahun 2000 yang lalu saja, terdapat sekitar 5,6 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes.
Namun, pada tahun 2006 diperkirakan jumlah penderita diabetes di Indonesia meningkat tajam menjadi 14 juta orang, dimana baru 50 persen yang sadar mengidapnya dan di antara mereka baru sekitar 30 persen yang datang berobat teratur.
Sangat disayangkan bahwa banyak penderita diabetes yang tidak menyadari dirinya mengidap penyakit yang lebih sering disebut penyakit gula atau kencing manis. Hal ini mungkin disebabkan minimnya informasi di masyarakat tentang diabetes terutama gejala-gejalanya.
Sebagian besar kasus diabetes adalah diabetes tipe 2 yang disebabkan faktor keturunan. Tetapi faktor keturunan saja tidak cukup untuk menyebabkan seseorang terkena diabetes karena risikonya hanya sebesar 5%. Ternyata diabetes tipe 2 lebih sering terjadi pada orang yang mengalami obesitas alias kegemukan akibat gaya hidup yang dijalaninya.
Menurut data WHO, Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita Diabetes Mellitus di dunia. Pada tahun 2000 yang lalu saja, terdapat sekitar 5,6 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes.
Namun, pada tahun 2006 diperkirakan jumlah penderita diabetes di Indonesia meningkat tajam menjadi 14 juta orang, dimana baru 50 persen yang sadar mengidapnya dan di antara mereka baru sekitar 30 persen yang datang berobat teratur.
Sangat disayangkan bahwa banyak penderita diabetes yang tidak menyadari dirinya mengidap penyakit yang lebih sering disebut penyakit gula atau kencing manis. Hal ini mungkin disebabkan minimnya informasi di masyarakat tentang diabetes terutama gejala-gejalanya.
Sebagian besar kasus diabetes adalah diabetes tipe 2 yang disebabkan faktor keturunan. Tetapi faktor keturunan saja tidak cukup untuk menyebabkan seseorang terkena diabetes karena risikonya hanya sebesar 5%. Ternyata diabetes tipe 2 lebih sering terjadi pada orang yang mengalami obesitas alias kegemukan akibat gaya hidup yang dijalaninya.
Jumat, 25 Desember 2009
Adverse Drug Reactions
0 comments1. Efek Gastrointestinal
Diare, mual, muntah, perut terasa penuh, indigesti dan tidak nyaman pada perut seperti kram perut merupakan efek tidak dikehendaki yang biasa terjadi pada terapi metformin dengan pemberian tablet konvensional. Karena diare dan mual disertai muntah dapat menyebabkan dehidrasi dan azotemia prerenal maka pemberian terapi metformin tidak dapat diteruskan karena dapat menyebabkan masalah GI yang serius.
Pemberian metformin memberikan efek merugikan pada GI biasanya terkait dengan dosis dan biasanya terjadi pada terapi inisial dan akan berkurang pada saat terapi berlanjut. Pada beberapa kasus, penurunan dosis metformin dilakukan untuk mengurangi efek merugikan tersebut secara cepat. Karena efek samping GI sering terjadi dan berkaitan dengan dosis maka mereka mengurangi dosis metformin dan meningkatkan secara bertahap pada terapi inisial guna mengurangi kejadian efek samping GI.
2. Hipoglikemia
Hipoglikemia tidak biasa terjadi pada pemberian monoterapi metformin, bagaimanapun itu mungkin terjadi pada saat pemberian metformin bersamaan dengan sulfonilurea, tiazolidindion, dan insulin ketika dilakukan penurunan intake kalori dan pada saat pasien melakukan aktivitas berat yang tidak disertai dengan intake makanan.
3. Efek Hematologi
Penurunan asimptom pada konsentrasi serum vitamin B12 dilaporkan pada pasien yang mendapatkan terapi metformin tunggal, dan pada pemberian bersamaan antara metformin dengan sulfonilurea selama 29 minggu dengan pengontrolan secara klinis. Penurunan ini berhubungan dengan adanya absorpsi vitamin B12 yang dihubungkan dengan kejadian anemia dan secara berulang cepat diikuti penghentian pemberian metformin dan suplemen B12.
Anemia megaloblastik jarang dilaporkan pada penggunaan metformin. Beberapa klinisian menganggap bahwa pemberian suplemen vitamin B12 secara parenteral pada pasien yang mendapatkan terapi metformin memberikan resiko yang tinggi terjadi peningkatan jumlah vitamin B12 yang abnormal.
4. Reaksi Dermatologi
Kejadian dermatitis dan ruam terjadi pada pasien yang menerima terapi metformin tunggal dan serupa dengan pemberian plasebo dan pada pasien yang menerima terapi metformin bersamaan dengan sulfonilurea dan serupa dengan pemberian sulfonilurea tunggal.
5. Asidosis Laktat
Akumulasi metformin mungkin menyebabkan gagal ginjal, dan akumulasi jarang menyebabkan asidosis laktat, secara serius, berpotensial penyakit metabolik fatal. Bagaimanapun metformin lebih beresiko terjadi asidosis laktat daripada fenformin. Asidosis laktat juga terjadi pada kumpulan kondisi patofisiologi yang beragam, termasuk diabetes melitus, dan mungkin terjadi ketika terjadi hiperperfusi jaringan yg besar dan ada hipoksemia. Asidosis laktat ditandai adanya peningkatan konsentrasi laktat dalam darah.
Metformin diimplikasikan sebagai penyebab terjadinya asidosis laktat. Bagaimanapun konsentrasi metformin dalam plasma mungkin bukan indikasi tepat pada akumulasi obat dalam jaringan dengan asidosis laktat akibat pemberian metformin dan peningkatan asam laktat dalam plasma atau asidosis laktat yang ditunjukkan selama terapi metformin meskipun konsentrasi obat dalam plasma normal.
Konsentrasi laktat dalam plasma mungkin berkaitan dengan diabetes yang kurang terkontrol, obesitas, aktivitas fisik berat, masalah tehnikal dalam mendeterminasi konsentrasi laktat dalam plasma.
Secara keseluruhan kejadian asidosis laktat pada pemberian metformin sangat rendah. Asidosis laktat diasosiasikan dengan terapi metformin umumnya terjadi pada pasien diabetes yang disertai gagal ginjal berat, dengan kerusakan kedua ginjal intrinsik dan hiperperfusi ginjal. Resiko asidosis laktat meningkat trekait dengan derajat kerusakan ginjal dan usia pasien.oleh karena itu resiko dengan kondisi tersebut dapat diminimalisir dengan monitoring fungsi renal secara bertahap dan penggunaan minimum dosis efektif metformin.
Terapi Diabetes Melitus
0 comments
Terapi Non Farmakologi
Diet sehat dan olahraga merupakan prioritas utama pada pelaksanaan terapi diabetes melitus. selain itu, beberapa pengobatan alternatif juga dapat dicoba, mengikuti peresepan yang dokter berikan dan transplantasi organ menjadi pilihan untuk orang-orang gagal ginjal atau yang tidak respon pada terapi lain.
Terapi Farmakologi
Obat-obat antidiabetik oral :
a. Pemicu sekresi insulin
1. Sulfonilurea
2. Glinid
b. Peningkatan sensitivitas terhadap insulin
1. Biguanid
2. Tiazolidindion
c. Penghambat alfa glukosidase
Diet sehat dan olahraga merupakan prioritas utama pada pelaksanaan terapi diabetes melitus. selain itu, beberapa pengobatan alternatif juga dapat dicoba, mengikuti peresepan yang dokter berikan dan transplantasi organ menjadi pilihan untuk orang-orang gagal ginjal atau yang tidak respon pada terapi lain.
Terapi Farmakologi
Obat-obat antidiabetik oral :
a. Pemicu sekresi insulin
1. Sulfonilurea
2. Glinid
b. Peningkatan sensitivitas terhadap insulin
1. Biguanid
2. Tiazolidindion
c. Penghambat alfa glukosidase
Diabetes Melitus
0 comments
-DEFINISI-
Diabetes melitus (DM) adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolute maupun relatif. menurut American Diabetes Association (ADA) 2009, DM merupakan suatu penyakit kronis yang memerlukan terapi lanjutan dan informsi tentang pengobatan sendiri untuk mencegah terjadinya komplikasi akut dan mengurangi terjadinya resiko komplikasi jangka panjang.
DM merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. manifestasi klinis hiperglikemia biasanya sudah bertahun-tahun mendahului timbulnya kelainan klinis dari penyakit vaskularnya. pasien dengan kelainan toleransi glukosa ringan (gangguan glukosa puasa dan gangguan toleransi glukosa) dapat tetap beresiko mengalami komplikasi metabolik diabetes.
Diabetes melitus (DM) adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolute maupun relatif. menurut American Diabetes Association (ADA) 2009, DM merupakan suatu penyakit kronis yang memerlukan terapi lanjutan dan informsi tentang pengobatan sendiri untuk mencegah terjadinya komplikasi akut dan mengurangi terjadinya resiko komplikasi jangka panjang.
DM merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. manifestasi klinis hiperglikemia biasanya sudah bertahun-tahun mendahului timbulnya kelainan klinis dari penyakit vaskularnya. pasien dengan kelainan toleransi glukosa ringan (gangguan glukosa puasa dan gangguan toleransi glukosa) dapat tetap beresiko mengalami komplikasi metabolik diabetes.
Langganan:
Postingan (Atom)
